Welcome to my blog :)

rss

Rabu, 03 Februari 2010

Siapa bilang bercerita itu sulit?

Siapa bilang bercerita itu sulit?

Oleh: lpm edukasi

Bila ingin mencoba mengasah instink kewartawanan, cobalah anda andaikan diri selayaknya seorang wartawan. Lalu, ternyata andaian itu tidak membantu apa-apa bagi kepekaan anda, ini wajar. Sebab proses kreatif kewartawanan ternyata tidak sekedar berandai-andai, butuh totalitas pemahaman kognitif dan psikomotorik.

Untuk menuju totalitas pemahaman, paling tidak, terlebih dahulu kita harus mengerti apa yang mesti kita kerjakan dengan status profesi tersebut. Sebenarnya, basis dari semua proses kreatif kewartawanan tidak lain adalah bercerita. Tugas wartawanan adalah membeberkan fakta kepada siapapun yang berhak atasnya. Sayang, untuk bercerita, nyatanya tidak semudah menyebarluaskan desas-desus yang biasa kita lakukan dalam pola komunikasi konvensional : lisan. Jurnalisme ternyata punya aturan sendiri tentang “bercerita”.

Aturan itu penting sifatnya, sebab bercerita dalam jurnalistik selalu digiring dalam kerangka menjernihkan desas-desus yang secara konsisten dibiasakan melalui budaya komunikasi lisan kita. Ingat, membeberkan fakta bukan berarti menyebarluaskan desas-desus yang berkembang di masyarakat. Sebaliknya, membeber fakta berarti menjernihkan masalah yang sudah terlanjur keruh menjadi desas-desus. Dalam kerangka inilah, sejak awal, seorang wartawan dituntut menjalankan dua prinsip sekaligus : recek dan cover multi sides.

Prinsip pertama mengajari kita tentang kedisiplinan menembus sumber utama dan pertama di setiap masalah yang kita ceritakan. Prinsip kedua, secara ideologikal, mengajari kita untuk selalu berdiri sebagai penengah dari setiap tarik-ulur kepentingan individu atau kelompok masyarakat yang ada disetiap masalah yang hendak kita ceritakan. Artinya, dalam setiap usaha bercerita, wartawan harus selalu mengcover suara berbagai kepentingan individu maupun kelompok sosial yang secara langsung terlibat pada masalah yang hendak diceritakan.

Yang penting akurasinya, bung!

Coba ingat-ingat betapa tidak sahihnya pola komunikasi lisan kita, yang senantiasa menjaga desas-desus sebagai daya tariknya. Cerita apapun yang keluar masuk telinga kita, hampir diujung lidah, dengan mudah bisa kita ceritakan tanpa dibebani prinsip recek maupun cover both sides.

Jurnalisme, tanpa ada pretensi untuk mendewakannya, tidak bisa kompromi dengan cara diatas. Ini karena cerita yang direkonstruksi oleh jurnalisme dalam sebuah gaya tutur,akan selalu berhadap-hadapan dengan opini publik. Sebab demikian cara bertutur harus meminimalisir ruang bagi berkembangnya kesimpangsiuran informasi yang bisa menjurus kepada fitnah. Ini namnya resiko. Bisa jadi tugas kewartawanan memang berusaha menjernihkan masalah yang sudah keruh dan bercampur fitnah, tetapi bila wartawan salah merekonstruksi masalah, selanjutnya membeberkan masalah tersebut kepada publik, maka yang terjadi justru sebaliknya, wartawan dalam kasus ini justru dalam memperkeruh masalah.

Tidak gampang meghindar dari resiko ini. Namun, jurnalisme punya patokannya: akurasi. Informasi apapun harus berpijak pada data. Data harus detail menyebut semua unsur masalah yang diberikan. Variable masalahnya harus jelas dituturkan. Keterlibatan setiap individu dan kelompok sosial mesti dicover sebagai keseimbangan informasi. Dan, wartawan tidak mendramatisir masalah dengan bombastisme, sebab fakta itu seringkali lebih dramatis dari imajinasi seorang wartawan sekalipun.

Masih bingung? Ini detailnya :

Pahami obyek dan unsur informasi. Seorang wartawan harus menguasai obyeknya. Dalam jurnalisme, berdasarkan kompleksitas unsurnya, obyek informasi dibedakan menjadi tiga hirarki: peristiwa, kasus, fenomena. Ketiganya adalah fakta. Pembedaan diantara ketiganya hanya terletak pada tingkat kompleksitas. Bisa jadi ketiganya adalah rangkaian; peristiwa merupakan sepenggal momen dalam sebuah kasus; pun demikian kasus bisa jadi merupakan sepenggal episode dari kukuhnya fenomena ditengah-tengah masyarakat.

Perbedaan diantara ketiganya mutlak harus dimengerti oleh seorang wartawan. Sebab bidikan obyek yang berbeda, akan menghasilkan kedalaman yang berbeda, dan tentu saja mempengaruhi bentuk pemberitaan. Peristiwa biasanya menghasilkan bentuk straight news (berita langsung), kasus selalu dibidik dalam bentuk pemberitaan depth news (berita mendalam) atau investigative news (berita dari hasil investigasi), sementara fenomena sedang marak bedah dalam kaidah jurnalisme presisi (jurnalisme ketepatan: sebuah teknik jurnalistik yang memanfaatkan metode penelitian untuk membedah sebuah fenomena, metode polling contohnya).

Apapun spesifikasi obyeknya, setiap pembidikan obyek informasi, harus detail menyebutkan berbagai unsur yang membentuk obyek. Dalam pandangan umum, unsur tersebut dirumuskan menjadi 5w +1h.

Apa dulu, siapa kemudian. Wartawan harus mengetahui secara tuntas kronologi dan muatan obyek informasi. Tanpa kompromi, wartawan harus mengetahui detail isi sebuah obyek berita. Detail isi itu kemudian dituturkan secara lenngkap kepada publik.

Siapa menjadi justifikasi. Unsur ini mengikutkan individu atau kelompok sosial yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam tarik-ulur kepentingan dimedan obyek. Unsur siapa inilah yang kemudian disebut dengan sumber berita, fungsinya memberi pembenaran terhadap fakta yang dituturkan oleh wartawan.

Dimensi ruang waktu sebuah obyek informasi mesti disebutkan. Kapan dan dimana fakta itu terjadi, harus diikutsertakan dalam mendeskripsikan fakta.

Bila menginginkan kedalaman informasi, seorang wartawan mesti menggali aspek why atau setting fakta dan how atau kelanjutannya sebagai alat menggali dimensi kedalaman fakta.

Membidik dengan angel. Angel disebut sebagai sudut bidik sebuah pemberitaan. Mengapa butuh angel? Karena keterbatasan. Fakta tidak mungkin direpresentasi secara utuh dalam sebuah pemberitaan. Menghindari pemberitaan yang bias akibat keterbatasan, selayaknya wartawan selalu menentukan angel pemberitaan, sebagai upaya memfokuskan masalah pada sudut bidik tertentu dari sebuah obyek berita. Kalau masih bingung, begini aja deh!

Rambut sebagai obyek agitasinya. Tetapi, lain iklan shampo lain pula angelnya. Clear lebih tertarik membidik kesehatan kulit rambut dan mewanti-wanti datangnya ketombe. Sunslik ternyata lebih tertarik pada sudut bidik kemilaunya, sementara rejoice memilih kekuatan rambut, agar tidak mudah patah. Semua iklan shampo berbicara tentang rambut. Semuanya menyuguhkan sudut bidiknya masing-masing. Demikianlah angel.berdasarkan

Jangan beropini. Sebab wartawan tidak boleh mencantumkan opini pribadinya dalam sebuah pemberitaan. Biarlah fakta berbicara atas nama dirinya sendiri. Jangan dicampur-adukkan dengan opini pribadi wartawan.


0 komentar:

Posting Komentar